Biografi KH Kholil As’ad Situbondo: Perjalanan Hidup dan Karya Ulama Aceh yang Meninggalkan Jejak Berharga

Pak Budi

Pendahuluan


KH Kholil As'ad Situbondo

Banyak tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia yang telah mengabdikan diri dan memberikan kontribusinya pada negara ini. Salah satu di antaranya adalah KH. Kholil As’ad Situbondo, seorang ulama kondang dan pejuang kemerdekaan yang memiliki peran penting dalam pergerakan nasional di Indonesia. Artikel ini akan menguraikan biografi lengkap dari KH. Kholil As’ad Situbondo.

Kehidupan Awal

Makam KH Kholil As'ad Situbondo

KH. Kholil As’ad lahir pada tanggal 10 November 1899 di Situbondo, Jawa Timur. Ia tumbuh dalam keluarga yang taat beragama, di mana ayahnya, KH. As’ad Syamsul Arifin, merupakan seorang ulama terkemuka di kota Situbondo. Keluarga KH. Kholil As’ad sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan memiliki tradisi keilmuan yang sangat erat dengan keluarga besar mereka.

Sejak kecil, KH. Kholil As’ad sudah menunjukkan bakat dan minat yang besar dalam bidang agama. Ia sering mengikuti kegiatan keagamaan bersama ayahnya, dan juga bergabung dengan majelis-majelis taklim atau pengajian di lingkungannya. Selain itu, ayahnya memberikan pendidikan formal kepada KH. Kholil As’ad dan membimbingnya untuk mempelajari kitab-kitab suci dan ilmu agama secara mendalam.

Pendidikan

Dalam bidang pendidikan, KH. Kholil As’ad juga menerima pengajaran dari beberapa guru terkemuka di daerahnya, seperti KH. Abdul Fattah di Biduk-biduk serta KH. Asmawi di Jenu. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di Situbondo, ia melanjutkan pendidikan di pesantren-pesantren terkemuka di Jawa Timur, seperti di pesantren Tebuireng dan Gontor.

Di pesantren Tebuireng, KH. Kholil As’ad belajar dari gurunya, yaitu KH. Hasyim Asy’ari, yang merupakan sosok ulama besar dan juga pendiri Nahdlatul Ulama. Di sini, ia mendalami ilmu agama secara intensif dan juga belajar bagaimana bersikap dan berjuang untuk kepentingan umat. Selain itu, ia juga mengikuti kegiatan pergerakan nasional yang digalakkan oleh Hasyim Asy’ari dan menjadi salah satu anggota aktivis santri di pesantren Tebuireng.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Tebuireng, KH. Kholil As’ad kemudian melanjutkan pendidikan ke Gontor, salah satu pesantren terkemuka di Jawa Timur. Di sini, ia mengembangkan kemampuan bahasa Arabnya dan juga memperdalam ilmu agama, terutama dalam bidang fiqh (hukum Islam). Setelah menyelesaikan pendidikan di Gontor, KH. Kholil As’ad kembali ke Situbondo dan menjadi guru di pesantren-pesantren di kota tersebut.

Karir Keagamaan


Karir Keagamaan KH. Kholil As'ad Situbondo

KH. Kholil As’ad lahir pada 24 Oktober 1893 di Situbondo, Jawa Timur. Beliau merupakan seorang tokoh agama dan pendiri pesantren As’adiyah yang terletak di Kemloko, Situbondo. Pesantren yang dulu diberi nama Pondok Pesantren Kemloko awalnya digunakan sebagai tempat belajar KH. Kholil As’ad ketika masih muda. Setelah ia memperoleh tanah warisan ayahnya, ia kemudian membangunnya menjadi sebuah pesantren yang kini dikenal sebagai pesantren As’adiyah.

Pada awalnya, pesantren As’adiyah hanya memiliki sedikit santri dan hanya mengajarkan ilmu agama dasar seperti membaca Al-Quran dan menghafal doa-doa. Namun, berkat usaha dan dedikasi KH. Kholil As’ad dalam mendidik santri muda, pesantren As’adiyah berkembang pesat dan menjadi salah satu pondok pesantren terbaik di Jawa Timur.

Kegiatan Dakwah


Selama hidupnya, KH. Kholil As’ad aktif dalam berdakwah dan menyerukan umat Islam untuk menegakkan ajaran agama dengan benar. Beliau sering memberikan ceramah dan khotbah di pesantren As’adiyah serta di masjid-masjid di sekitar Situbondo. Melalui dakwahnya, KH. Kholil As’ad berhasil membawa banyak orang untuk memperdalam ilmu agama dan memahami kebenaran ajaran Islam.

Salah satu bentuk kegiatan dakwah KH. Kholil As’ad adalah dengan mendirikan majlis taklim, yaitu kelompok diskusi dan pembelajaran agama Islam yang terdiri dari sejumlah wanita Muslim. Majlis taklim tersebut bertujuan untuk memberikan pengetahuan bidang agama bagi wanita yang kurang akses untuk belajar di pesantren atau di luar rumah. Selain itu, KH. Kholil As’ad juga sering mengunjungi desa-desa di sekitar Situbondo untuk memberikan bimbingan dan pengajaran agama dasar kepada masyarakat.

KH. Kholil As’ad meninggal pada 18 Juni 1953. Warisannya dalam memberikan pendidikan agama dan dakwah terus dipelihara oleh para pengasuh pesantren As’adiyah hingga saat ini. Pesantren tersebut berdiri kokoh sebagai pusat pendidikan Islam yang terkenal di Situbondo dan Jawa Timur.

Perjuangan Kemerdekaan


Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Sebagai seorang ulama dan pejuang kemerdekaan, KH. Kholil As’ad ikut serta dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Beliau menjadi anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang bertugas untuk mengamankan dan memeriksa keuangan pada masa revolusi kemerdekaan. Selain itu, beliau juga turut aktif sebagai anggota Partai Nasional Indonesia (PNI) dan pernah mengemban tugas sebagai Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) untuk wilayah Jawa Timur.

Hubungan dengan Soekarno

Beliau memiliki hubungan dekat dengan Soekarno, Presiden pertama Indonesia, sebagai teman dan tokoh nasional yang sangat dipercayai dalam berbagai hal. KH. Kholil As’ad kerap kali mendiskusikan secara langsung dengan Soekarno mengenai berbagai isu penting di masyarakat dan negara, termasuk tentang perjuangan kemerdekaan. Bahkan, pada 1958, KH. Kholil As’ad bertemu dengan Soekarno untuk membahas masalah politik dan ekonomi di ASIA Afrika Selatan. Kedekatan mereka membuat KH. Kholil As’ad juga sering diundang oleh Soekarno untuk memberikan nasihat dan gagasan dalam berbagai kebijakan pemerintahan.

Karya Tulis


Karya Tulis KH Kholil As'ad

KH. Kholil As’ad adalah seorang ulama yang dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, Situbondo. Salah satu kiprahnya dalam dunia literasi adalah dengan menghasilkan beberapa karya tulis, di antaranya adalah buku “Risalah Pemuda” dan “Mafatihul Jinan”. Buku “Risalah Pemuda” memaparkan nilai-nilai keislaman yang dapat menjadi pedoman bagi pemuda dalam mengejar kebahagiaan dunia dan akhirat. Sementara itu, “Mafatihul Jinan” adalah kitab yang berisi kumpulan doa-doa dan amalan-amalan dalam Islam yang populer digunakan oleh umat Muslim hingga saat ini.

Perjuangan untuk Merdeka

Meski identitasnya sebagai seorang kyai, KH. Kholil As’ad memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sejak awal terlibat dalam Gerakan Nasional Indonesia (GNI) pada tahun 1927, ia selalu mendorong para santrinya untuk mengikuti gerakan nasional. Tidak hanya itu, ia juga menjabat sebagai anggota Majelis Syuro Muslimin Indonesia (MASYUMI), sebuah partai politik Islam yang menjadi kekuatan politik terbesar di Indonesia pada masa itu.

Pada tahun 1945, KH. Kholil As’ad menjadi salah satu tokoh pengharapan dalam konferensi yang membahas kemerdekaan Indonesia, yaitu Konferensi Meja Bundar. Di sana, KH. Kholil As’ad merumuskan beberapa usulan sebagai solusi atas konflik antara RI dan Belanda, di antaranya adalah pemisahan kekuasaan militer dan sipil serta pemberian hak asasi manusia yang berlaku untuk semua bangsa.

Tak hanya itu, KH. Kholil As’ad juga berperan aktif dalam membimbing para pejuang kemerdekaan dalam memahami nilai-nilai keagamaan dan patriotisme dalam berjuang. Salah satu contohnya adalah ketika ia memberikan wejangan kepada tokoh pergerakan Hatta dan Soekarno, untuk mengantisipasi upaya penggagalan Proklamasi Kemerdekaan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

Kontribusi dalam Pengembangan Pendidikan Islam

KH. Kholil As’ad juga dikenal sebagai sosok yang sangat peduli terhadap pendidikan Islam. Beliau memimpin Pondok Pesantren Sidogiri selama lebih dari 50 tahun, dan berhasil mencetak banyak ulama dan calon pemimpin di bidang keagamaan dan publik. Selain itu, ia juga mendirikan Madrasah Aliyah yang menjadi cikal bakal berdirinya Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.

Kontribusi KH. Kholil As’ad dalam pendidikan Islam juga tercermin dari prinsip-prinsip yang dipegangnya, yaitu pendidikan yang berbasis Qur’an dan Sunnah, serta menerapkan pendekatan yang tidak hanya akademik, tetapi juga praktek. Di antara murid-muridnya yang berhasil menduduki posisi penting di Indonesia adalah KH. Abdurrahman Wahid, yang kemudian menjadi Presiden RI keempat.

Warisan

KH. Kholil As’ad telah meninggal pada tanggal 30 Oktober 1981, namun perjuangannya dalam bidang keagamaan dan kemerdekaan Indonesia tetap dikenang dan dihargai. Melalui berbagai buku, tulisan, dan ceramahnya, beliau berhasil menanamkan nilai-nilai keislaman serta cinta tanah air ke dalam hati para santrinya, sehingga menjadi generasi penerus perjuangan kemerdekaan dan pengembangan pendidikan Islam.

Terlebih lagi, warisan KH. Kholil As’ad yang paling berharga adalah adanya pondok pesantren yang dirintisnya yang terus berkembang hingga saat ini. Pesantren Sidogiri menjadi pusat pengembangan pendidikan Islam yang telah melahirkan pesantren-pesantren lain di seluruh Indonesia, bahkan ke beberapa negara di Asia Tenggara. Dalam pesantren Sidogiri pula, berdiri museum KH. Kholil As’ad yang memamerkan berbagai benda dan dokumentasi perjuangannya.

Pengenalan


KH. Kholil As'ad

KH. Kholil As’ad merupakan seorang ulama dan tokoh nasional Indonesia yang sangat dihormati oleh banyak kalangan. Beliau terkenal dengan kontribusinya dalam mengembangkan keagamaan dan kemerdekaan Indonesia.

Kehidupan Awal dan Karir Beliau


KH. Kholil As'ad Muda

KH. Kholil As’ad lahir pada tahun 1889 di Situbondo, Jawa Timur. Beliau tumbuh dalam keluarga yang taat beragama dan memiliki keturunan arab dari sang ayah, KH. As’ad Syamsul Arifin. Pada usia muda, KH. Kholil As’ad belajar di berbagai pesantren di Jawa Timur dan kemudian menjadi pengajar di pondok pesantren milik ayahnya.

Setelah Indonesia merdeka, KH. Kholil As’ad menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Beliau memainkan peran penting dalam menyusun teks proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Kontribusi dalam Pengembangan Keagamaan


Masjid KH. Kholil As'ad

KH. Kholil As’ad juga dikenal sebagai ulama yang sangat aktif dalam pengembangan keagamaan di Indonesia. Beliau mendirikan beberapa pondok pesantren di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah, termasuk Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang yang merupakan salah satu pondok pesantren terbesar di Indonesia.

Selain itu, beliau juga memegang beberapa posisi penting dalam organisasi keagamaan, seperti ketua jam’iyyah ahlith thoriqoh al Mu’tabaroh an Nahdliyah dan pendiri majalah Al-Ikhlash.

Kontribusi dalam Kemerdekaan Indonesia


KH. Kholil As'ad dan Presiden Soekarno

Selama masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, KH. Kholil As’ad memainkan peran penting sebagai salah satu pemimpin dari Gerakan Sabilillah. Beliau juga aktif dalam bernegosiasi dengan pemerintah kolonial Belanda dan memobilisasi masyarakat untuk mendukung perjuangan kemerdekaan.

Pada saat proklamasi kemerdekaan Indonesia, KH. Kholil As’ad menjadi anggota PPKI dan terlibat langsung dalam penyusunan teks proklamasi tersebut.

Ahli Waris


Pondok Pesantren KH. Kholil As'ad

Sekarang, para ahli warisnya memegang kendali pondok pesantren yang didirikan oleh KH. Kholil As’ad. Mereka melanjutkan karya besar beliau dengan mempertahankan nilai-nilai keagamaan dan moral yang beliau ajarkan kepada generasi penerus.

Kesimpulan

KH. Kholil As’ad adalah seorang ulama dan tokoh nasional Indonesia yang meninggalkan warisan penting dalam pengembangan keagamaan dan kemerdekaan Indonesia. Beliau tidak hanya membangun pesantren dan organisasi keagamaan, tetapi juga berperan langsung dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sekarang, ahli warisnya melanjutkan karya besar beliau untuk memajukan Indonesia dalam bidang keagamaan dan sosial.

Also Read

Tags